Rabu, 10 Oktober 2012

ETIKA BISNIS Etika bisnis adalah merupakan cara untuk melakukan kegiatan bisnis, nilai – nilai yang dijadikan acuan oleh manajer dan karyawan untuk mengambil keputusan dan mengoperasikan bisnis yang mengerti yang berkaitan dengan sendiri, perusahaan dan juga masyarakat. Etika Bisnis dalam suatu perusahaan dapat membentuk nilai, norma dan perilaku karyawan serta pimpinan dalam membangun hubungan yang adil dan sehat dengan pelanggan/mitra kerja, pemegang saham, masyarakat. Etika bisnis juga memiliki prinsip prinsip yang harus ditempuh perusahaan untuk mencapai tujuannya dan harus dijadikan pedoman agar memiliki standar baku yang mencegah timbulnya ketimpangan dalam memandang etika moral sebagai standar kerja atau operasi perusahaan. Kepemimpinan yang baik dalam bisnis adalah kepemimpinan yang beretika. Etika dalam berbisnis memberikan batasan akan apa yang sebaiknya dilakukan dan tidak. Pemimpin sebagai model dalam penerapan etika bisnis, akan mampu mendorong karyawannya untuk terus berkembang sekaligus memotivasi karyawan.

Jumat, 27 April 2012

SKRIPSI Pengertian Skripsi Skripsi merupakan karya tulis ilmiah berdasarkan hasil penelitian lapangan dan atau studi kepustakaan yang disusun mahasiswa sesuai dengan bisang studinya sebagai tugas akhir dalam studi formalnya di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Merdeka Madiun. Penelitian adalah keseluruhan kegiatan baik di dalam pikiran maupun dalam kegiatan nyata yang dilakukan oleh mahasiswa untuk menyelesaikan suatu masalah di bidang ilmu pengetahuan ilmiah dalam rangka penyusunan skripsi. Tujuan dan Kegunaan Skripsi Tujuan dan kegunaan skripsi yaitu menyajikan hasil-hasil temuan penelitian secara ilmiah yang berguna bagi pengembangan ilmu dan atu kepentingan praktis administrasi negara dan komunikasi. Karakteristik Skripsi Skripsi yang disusun mahasiswa harus memiliki karakteristik sebagai berikut : 1.Merupakan hasil karya asli, bukan jiplakan bagi sebagian atau secara keseluruhan (dibuat pernyataan di atas kertas segel bermaterai Rp. 6.000,00). 2.Mempunyai relevansi dengan Ilmu Administrasi Negara dan Ilmu Komunikasi. 3.Mempunyai manfaat teoritis atau praktis. 4.Sesuai dengan kaidah-kaidah keilmuan. 5.Menggunakan bahasa Indonesia yang baku, baik dan benar menurut Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Persyaratan Penyusunan Skripsi Untuk melakukan penyusunan skripsi, mahasiswa harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : 1.Telah lulus mata kuliah dengan beban studi 110 sks. 2.Nilai D tidak lebih dari 20% dan tidak ada nilai E. 3.Telah lulus mata kuliah Statistik Sosial bagi Program Studi Ilmu Administrasi Negara, Metode Penelitian Sosial dan Metode Penelitian Komunikasi bagi Program Studi Ilmu Komunikasi. 4.Memenuhi persyaratan administrasi keuangan yang telah ditentukan. Dosen Pembimbing 1.Persyaratan Dosen Pembimbing 1.Pembimbing skripsi adalah Dosen Tetap FISIP Universitas Merdeka Madiun. 2.Dosen Pembimbing Skripsi terdiri dari dua, yaitu Dosen Pembimbing I (Utama) dan Dosen Pembimbing II (Pendamping Pembimbing Utama). 3.Dosen Pembimbing I serendah-rendahnya Lektor yang telah lulus Pasca Sarjana (S-2). Sedangkan Dosen Pembimbing II serendah-rendahnya Asisten dengan pengalaman kerja 5 tahun. 4.Setiap Dosen Pembimbing, membimbing sesuai dengan disiplin ilmunya masing-masing kecuali karena suatu hal. 2.Tugas Dosen Pembimbing 1.Membimbing dan mengarahkan mahasiswa dalam menyususn proposal skripsi. 2.Menandatangani proposal skripsi apabila telah disetujui. 3.Membimbing dan mengarahkan mahasiswa dalam penelitian dan penyusunan skripsi. 4.Menandatangani berita acara konsultasi bimbingan skripsi. 5.Menandatangani draf skripsi apabila telah disetujui untuk ujian skripsi. 6.Hadir pada saat ujian skripsi. 7.Menandatangani pengesahan skripsi yang telah selesai diuji dan direvisi. Tesis Tesis adalah karya tulis ilmiah resmi akhir seorang mahasiswa dalam menyelesaikan Program Magister (S2). Tesis merupakan bukti kemampuan yang bersangkutan dalam penelitian dan pengembangan ilmu pada salah satu bidang keilmuan dalam Ilmu Pendidikan Karakteristik Tesis 1.Berfokus pada kajian mengenai salah satu isu sentral yang tercakup dalam salah satu disiplin dalam ilmu pendidikan sesuai dengan program studi yang ditempuh oleh mahasiswa yang bersangkutan. 2.Merupakan pengujian empirik terhadap posisi teoritik tertentu. 3.Menggunakan data primer sebagai data utama yang dapat ditunjang oleh data sekunder. 4.Ditulis dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar, kecuali untuk program studi bahasa asing.
Penalaran adalah bentuk tertinggi dari pemikiran, dan oleh sebab itu lebih rumit dibanding pengertian dan proporsi. Penalaran adalah proses berfikir yang sistematik untuk memperoleh kesimpulan berupa pengetahuan. Sedangkan dalam Wikipedia Bahasa Indonesia, penalaran merupakan proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (pengamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proporsi – proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar. Secara sederhana, penalaran dapat didefinisikan sebagai proses pengambilan kesimpulan berdasarkan proporsi-proporsi yang mendahuluinya. Sebuah penalaran terdiri atas premis dan kesimpulan. Penalaran biasanya dibedakan menjadi dua: 1) Penalaran induktif Metode berpikir induktif adalah metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal khusus ke umum. Hukum yang disimpulkan difenomena yang diselidiki berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diteliti. Metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal khusus ke umum. Hukum yang disimpulkan difenomena yang diselidiki berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diteliti. Macam-macam penalaran Induktif antara lain : a. Hubungan Kausal, adalah penalaran yang diperoleh dari gejala-gejala yang saling berhubungan b. Hubungan Sebab Akibat, adalah penalaran dimulai dengan mengemukakan fakta berupa sebab lalu disusul dengan kesimpulan yang berupa akibat c. Hubungan Analogi, adalah penalaran yang membandingkan dua hal yang berbeda, tetapi memiliki banyak persamaan d. Hubungan Klasifikasi, adalah penalaran yang menggolongkan atau mengelompokkan ide, gagasan, pendapat atau suatu hal atas dasar pengalaman yang disusun secara sistematis. Contoh: Jika ada udara, manusia akan hidup. Jika ada udara, hewan akan hidup. Jika ada udara, tumbuhan akan hidup. Jika ada udara mahkluk hidup akan hidup. *Artinya pada penalaran induktif, konklusi lebih luas dari premis. 2) Penalaran Deduktif Metode berpikir deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus. Corak berpikir deduktif adalah silogisme kategorial, silogisme hipotesis, silogisme alternatif. Dalam penalaran ini tedapat premis, yaitu proposisi tempat menarik kesimpulan. Untuk penarikan kesimpulannya dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung. Penarikan kesimpulan secara langsung diambil dari satu premis,sedangkan untuk penarikan kesimpulan tidak langsung dari dua premis. Macam-macam penalaran deduktif diantaranya : a. Silogisme Merupakan suatu proses penarikan kesimpulan secara deduktif. Silogisme disusun dari dua proposi (pernyataan) dan sebuah konklusi (kesimpulan). Dengan fakta lain bahwa silogisme adalah rangkaian 3 buah pendapat, yang terdiri dari 2 pendapat dan 1 kesimpulan. Contoh: Semua anak kelas 3eb01 gemar membaca Shinta adalah anak kelas 3eb01 Jadi, Shinta gemar membaca (konklusi / kesimpulan) b. Entimen Entimen adalah penalaran deduksi secara langsung. Dan dapat dikatakan pula silogisme premisnya dihilangkan atau tidak diucapkan karena sudah sama-sama diketahui. Contoh : Semua penyanyi adalah seniman Kyuhyun adalah seorang penyanyi Jadi,Kyuhyun adalah seorang seniman Dari silogisme ini dapat ditarik satu entimen, yaitu ”Kyuhyun seorang seniman karena dia adalah penyanyi”.http://id.wikipedia.org/wiki/Penalaran

Rabu, 23 November 2011

Pengaruh ke situasi

Menurut Engel,dkk (1994) pengaruh situasi dapat dipandang sebagai pengaruh yang timbul dari faktor yang khusus untuk waktu dan tempat yang spesifik yang lepas dari karakteristik konsumen dan karakteristik obyek.
Sedangkan menurut Mowen dan Minor (1998) situasi konsumen adalan faktor lingkungan sementara yang menyebabkan suatu situasi dimana perilaku konsumen muncul pada waktu tertentu dan tempat tertentu.

Berikut ini adalah 5 karakteristik situasi pembelian :
1. Lingkungan Fisik
Sarana fisik yang menggambarkan situasi konsumen yang meliputi: lokasi, dekorasi, aroma, cahaya, cuaca dan objek fisik lainnya yang ada di sekeliling konsumen

2. Lingkungan Sosial
Kehadiran dan ketidakhadiran orang lain pada situasi tersebut.

3. Waktu
Waktu atau saat perilaku muncul (jam, hari, musim libur, bulan puasa, tahun baru). Waktu mungkin diukur secara subjektif berdasarkan situasi konsumen, misal kapan terakhir kali membeli biskuit. Arti kapan terakhir kali akan berbeda antar konsumen.

4. Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai pada suatu situasi. Konsumen yang belanja untuk hadiah akan menghadapi situasi berbeda dibandingkan belanja untuk kebutuhan sendiri.

5. Suasana Hati
Suasana hati atau kondisi jiwa sesaat (misalnya perasaan khawatir, tergesagesa, sedih, marah) yang dibawa pada suatu situasi.

Berikut ini adalah beberapa situasi yang dapat mempengaruhi seseorang untuk membeli suatu barang :
1. Situasi Pembelian adalah lingkungan atau suasana yang dialami/dihadapi konsumen ketika membeli produk dan jasa. Situasi pembelian akan mempengaruhi pembelian
2. Situasi Pemakaian adalah situasi penggunaan produk dan jasa merupakan situasi atau suasana ketika konsumsi terjadi. Konsumen seringkali memilih suatu produk karena pertimbangan dari situasi konsumsi

Contoh :
Saat seseorang berada dalam suatu acara outdoor dan saat itu sangat panas, ia merasa haus dan melihat ada seorang penjual minuman dingin yang segar, berapapun harganya ia akan mau membeli minuman tersebut untuk mengurangi rasa hausnya tanpa piker panjang lagi. Tetapi saat dia sedang berada di sebuah supermarket, ia akan lebih memperhatikan harga minuman yang akan dibelinya. Hal ini menujukkan bahwa situasi dapat mempengaruhi seseorang dalam membeli suatu barang.

Pengaruh keluarga dan rumah tangga

tentang keluarga dan hubungan mereka dengan pembelian dan konsumsi adalah penting, tetapi kerap diabaikan dalam analisis perilaku konsumen. Pentingnya keluarga timbul karena dua alasan.

Pertama, banyak produk yang dibeli oleh konsumen ganda yang bertindak sebagai unit keluarga. Rumah adalah contoh produk yang dibeli oleh kedua pasangan, barangkali dengan melibatkan anak, kakek-nenek, atau anggota lain dari keluarga besar. Mobil biasanya dibeli oleh keluarga, dengan kedua pasangan dan kerap anak remaja mereka terlibat dalam pelbagai tahap keputusan. Bentuk favorit dari kegiatan waktu senggang bagi banyak keluarga adalah berkunjung ke pusat perbelanjaan setempat. Kunjungan tersebut kerap melibatkan banyak anggota keluarga yang membeli pelbagai barang rumah tangga, busana, dan barangkali bahan makanan. Perjalanan tersebut mungkin pula melibatkan semua anggota dalam memutuskan di restoran fast-food mana untuk membelanjakan pendapatan keluarga yang dapat digunakan.

Kedua, bahkan ketika pembelian dibuat oleh individu, keputusan pembelian individu bersangkutan mungkin sangat dipengaruhi oleh anggota lain.dalam keluarganya. Anak-anak mungkin membeli pakaian yang dibiayai dan disetujui oleh orang tua. Pengaruh seorang remaja mungkin pula besar sekali pada pembelian pakaian orangtua. Pasangan hidup dan saudara kandung bersaing satu sama lain dalam keputusan tentang bagaimana pendapatan keluarga akan dialoksikan untuk keinginan individual mereka. Orang yang bertanggung jawab untuk pembelian dan persiapan makanan keluarga mungkin bertindak sebagai individu di pasar swlayan, tetapi dipengaruhi oleh preferensi dan kekuasaan anggota lain dalam keluarga. Konsumen tersebut mungkin menyukai makanan dan kegiatan waktu senggang yang sama, dan mengemudikan merek mobil yang sama dengan anggota yang lain dalam keluarga. Pengaruh keluarga dalam keputusan konsumen benar-benar meresap.

Studi tentang keputusan keluarga sebagai konsumen kurang lazim dibandingkan studi tentang individu sebagai konsumen. Alasan untuk pengabaian dalam studi pembelian keluarga adalah kesulitan dalam mempelajari tentang keluarga sebagai organisasi. Survey dan metodologi penelitian pemasaran lain lebih mudah dijalankan untuk individu daripada untuk keluarga. Pemberian kuesioner kepada seluruh keluarga membutuhkan akses ke semua anggota pada waktu yang lebih kurang sama, dengan menggunakan bahasa yang mempunyai makna sama bagi semua anggota keluarga, dan menafsirkan hasil ketika anggota dari keluarga yang sama melaporkan opini yang bertentangan mengenai apa yang dibeli oleh keluarga atau pengaruh relative dalam keputusan tersebut.

APAKAH KELUARGA ITU?

Keluarga (family) adlah kelompok yang terdiri dari dua atau lebih orang yang berhubungan melalui darah, perkawinan atau adopsi dan tinggal bersama. Keluarga inti (nuclear family) adalah kelompok langsung yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak yang tingga bersama. Keluarga besar (extended family) mencakup keluarga inti, ditambah kerabat lain, seperti kakek-nenek, paman dan bibi, sepupu dan kerabat karena perkawinan. Keluarga dimana seseorang dilahirkan disebut keluarga orientasi (family of orientation), sementara keluarga yang ditegakkan melalui perkawinan adalah keluarga prokreasi (family of procreation).

APAKAH RUMAH TANGGA ITU?

Rumah tangga (household) adalah istilah lain yang kerap digunakan oleh para pemasar sewaktu mendeskripsikan perilaku konsumen. Rumah tangga berbeda dengan keluarga dalam rumah tangga mendeskripsikan semua orang, baik yang berkerabat maupun yang tidak, yang menempati satu unit perumahan. Baik untuk rumah tangga maupun keluarga, data dapat digunakan oleh organisasi pemasaran untuk analisis makro maupun pemasaran. Haverty mengidentifikasikan variabel utama yang terlibat didalam analisis seperti ini :

Fungsi Produksi Rumah Tangga
Fungsi Pembelian
Produksi Rumah Tangga
Fungsi Konsumsi
Fungsi Pasar Tenaga Kerja
Fungsi Pemeliharaan Keluarga

B Stok (Sumber Daya) Rumah Tangga

1. Informasi

2. Sumber Keuangan

3. Barang Pasar

4. Karakteristik

5. Waktu

C. Variabel Eksogen atau yang Ditetapkan Sebelumnya

1. Data

2. Peluang Pasar Tenaga Kerja

3. Peluang Pasar Produk

4. Struktur Rumah Tangga

5. Kepuasan

Walaupun rumah tangga dan keluarga kadang digunakan secara dapat dipertukarkan sewktu menganalisis bagaimana keputusan pembelian diambil, adalah penting untuk membedakan antara kedua ini sewaktu memeriksa data. Rumah tangga menjadi unit yang analisis yang lebih penting bagi pemasar karena pertumuhan yang pesat di dalam keluarga trdisional dan rumah tangga nonkeluarga. Di antara rumah tangga nonkeluarga,mayoritas besar terdiri dari orang-orang yang hidup sendiri.

Para pemasar tidak hanya berpikir tentang keluarga, kategori rumah tangga yang terbesar, tetapi juga rumah tangga nonkeluarga, yang berkembang lebih cepat.


VARIABEL YANG MEMPENGARUHI PEMBELIAN KELUARGA / RUMAH TANGGA

Keluarga memiliki pendapatan rata-rata yang lebih tinggi dibandingkan dengan rumah tangga karena jumlah yang lebih banyak dari individu yang bekerja di dalam keluarga. Untuk keluarga maupun rumah tangga, keempat variabel structural yang paling memberi dampak pada keputusan pembelian dan yang demikian paling menarik bagi pemasar adalah usia kepala rumah tangga atau keluarga, ststus perkawinan, kehadiran anak, dan ststus pekerjaan.

Keluarga adalah sama dengan perusahaan; keluarga adalah organisasi yang terbentuk untuk mencapai fungsi tertentu yanmg lebih efektif dibandingkan individu yang hidup sendiri. Fungsi yang paling jelas bahwa dua oramg dapat mencapai lebih baik daripada satu orang adalah mempunyai anak. Walaupun analisis konsumen mungkin tidak mempunyai opini mengenai apakah keluarga harus mempunyai anak atau tidak. Konsekuensi ekonomi dengan hadirnya anak menciptakan struktur permintaan akan pakaian, makana, perbot, rumah, perawatan kesehatan, pendidikan dan produk.lain. anak di dalam keluarga dapat menyebabkan menurunnya permintaan akan produk lain, seperti perjalanan, restoran, pakaian orang dewasa, dan banyak barang yang bebas pilih.
VARIABEL SOSIOLOGIS YANG MEMPENGARUHI KELUARGA

Pemasar juga perlu menganalisis variabel nonekonomi untuk meramalkan perilaku pembelian. Bagaimana keluarga mengambil keputusan dapat dimengerti dengan lebih baik dengan mempertimbangkan dimensi sosiologis seperti kohesi, kemampuan beradaptasi (adaptability), dan komunikasi. Kohesi adalah pertalian emosi yang dimiliki para anggota keluarga satu sama lain. Kohesi adalah ukuran seberapa dekat yang dirasakan oleh para anggota keluarga terhadap satu sama lain pada tingkat emosi. Kohesi merefleksikan perasaan keterkaitan dengan atau keterpisahan dari anggota lain dalam keluarga.

Kemampuan keluarga dalam beradaptasi adalah kemampuan sistem perkawinan atau keluarga untuk mengubah struktur kekuasaannya, hubungan peranan, dan kaidah hubungan sebagai respon terhadap stress situasional dan perkembangan. Kemampuan keluarga dalam beradaptasi adalah ukuran seberapa baik keluarga dapat memenuhi tantangan yang disajikan oleh kebutuhan yang berubah.

Komunikasi adalah dimensi yang memudahkan, yang kritis bagi gerakan pada dua dimensi yang lain. Keterampilan berkomunikasi yang positif memungkinkan keluarga untuk berbagi satu sama lain kebutuhan dan preferensi mereka yang berubah sebagaimana berhubungan dengan kohesi dan kemampuan beradaptasi. Pengertian apakah anggota keluarga puas atau tidak dengan produk yang dibeli oleh keluarga mereka mungkin mensyaratkan pengertian akan komunikasi did lam keluarga

KEPUTUSAN PEMBELIAN KELUARGA

Keluarga adalah “pusat pembelian” yang merefleksikan kegiatan dan pengaruh individu yang membentuk keluarga bersangkutan. Individu membeli produk untuk dipakai sendiri dan untuk dipakai oleh anggota keluarga yang lain.
PERANAN INDIVIDU DALAM PEMBELIAN KELUARGA

Keputusan konsumsi keluarga melibatkan setidaknya lima peranan yang dapat didefinisikan. Peranan-peranan ini mungkin dipegang oleh suami, istri, anak, atau anggota lain dalam rumah tangga. Peranan ganda atau aktor ganda adalah normal.

Penjaga pintu (gatekeeper). Inisiator pemikiran keluarga mengenai pembelian produk dan pengumpulan informasi untuk membantu pengambilan keputusan
Pemberi pengaruh (influencer). Individu yang opininya dicari sehubungan dengan kriteria yang harus digunakan oleh keluarga dalam pembelian dan produk atau merek mana yang paling mungkin cocok dengan kriteria evaluasi itu
Pengambil keputusan (decider). Orang dengan wewenang dan / atau kekuasaan keuangan untuk memilih bagaimana uang keluarga akan dibelanjakan dan produk atau merek mana yang yang akan dipilih.
Pembeli (buyer). Orang yang bertindak sebagai agen pembelian: yang mengunjungi toko, menghubungi penyuplai, menulis cek, membawa produk kerumah, dan seterusnya.
Pemakai (user). Orang yang menggunakan produk

Pemasar perlu berkomunikasi dengan pemegang masing-masing peranan. Anak misalnya, adalah pemakai serealia, mainan, pakaian, dan banyak produk lain, tetapi mungkin bukan pembeli. Salah satu atau kedua orangtua mungkin merupakan pengambil keputusan dan membeli, walaupun anak mungkin penting sebgai pemberi pengaruh dan pemakai.

Peranan memberi pengaruh mungkin dipegang oleh orang yang paling ahli. Sebagai contoh, orangtua mungkin menjadi pengambil keputusan mengenai mobil mana yang mereka akan beli, tetapi remaja kerp memainkan peranan utama sebagai penjaga pintu informasi dan sebagai pemberi pengaruh karena pengetahuan yang lebih banyak mengenai unjuk kerja, cirri produk, atau norma social.


PERILAKU PERAN (ROLE BEHAVIOR)

keluarga dan kelompok lain juga memperlihatkan apa yang oleh sosiolog Talcott Parsons disebut perilaku peran instrumental dan ekspresif. Peran instrumental, yang juga dikenal sebagai peran fungsional atau ekonomi, melibatkan aspek keuangan, karakter performasi, dan sifat “fungsional” lain seperti kondisi pembelian. Peranan ekspresif melibatkan dukungan kepada anggota keluarga yang lain dalam proses pengambilan keputusan dan kebutuhan estetik atau emosi keluarga, termasuk penegakan norma keluarga. Pelbagai anggota keluarga mungkin memenyhi baik peran instrumental maupun peran ekspresif, bergantung pada jenis keputusan pembelian dan karakteristik individual dari anggota keluarga yang bersangkutan.

Komunikasi pemasaran harus diarahkan kepada preferensi dan kriteria evaluasi individual. Namun, ini rumit karena pengaruh dari anggota keluarga yang lain. Sebagai contoh, sebagaimana dijelaskan oleh Davis, “seorang suami mungkin membeli sebuah station wagon, dengan adanya realitas berupa keharusan mengantar empat anak, walaupun preferensinya yang kuat adalah untuk mobil sport . . . .”. Seorang ibu rumah tangga mendasarkan keputusan produk dan merek hingga jangkauan tertentu pada pesanan atau permintaan anggota keluarga dan pada penilaiannya tentang apa yang mereka sukai atau tidak disukai dan apa yang baikuntuk mereka.

Pengaruh individu

Pada bulan September 1999, Corparation Polaroid diperkenalkan ke pasar AS kamera, kecil instan dengan lensa murah yang diproduksi fuzzy, perangko-perangko ukuran foto yang dapat ganda sebagai stiker. Para ilmuwan dan insinyur di Polaroid, benar memegang lama berdiri reputasi perusahaan untuk membangun berkualitas tinggi, produk teknologi yang inovatif, skeptis. Mereka khawatir bahwa ini kamera instan baru, yang disebut I-Zona Kamera Pocket Instan, akan mencemari reputasi mereka. Sebelum menjadi salah satu pendukung fanatik I-Zone, Ed Coughlan pikir kamera itu gila, “Saya seorang insinyur tua. Aku tidak bisa untuk kehidupan saya mencari tahu siapa yang akan membelinya” (dikutip dalam Klein, 2000, hal A1).
Mencari tahu tidak hanya siapa yang akan membelinya, tetapi mengapa mereka akan membelinya, di mana mereka akan membelinya, seberapa sering mereka akan membelinya, dan bagaimana mereka akan menggunakannya adalah landasan pemahaman perilaku konsumen. Perilaku konsumen adalah studi tentang orang: bagaimana kita membeli, mengkonsumsi dan membuang produk. Masing-masing dari kita adalah konsumen dari ratusan produk setiap hari. Sebagai konsumen, kita bisa mendapatkan keuntungan dari pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana kita membuat keputusan kita sehingga kita bisa membuat yang lebih bijaksana. Pemasar bisa mendapatkan keuntungan dari pemahaman tentang perilaku konsumen sehingga mereka lebih baik dapat memprediksi apa yang konsumen inginkan dan bagaimana cara terbaik untuk menawarkan kepada mereka. Mempercayai pemahaman mereka dari pasar konsumen yang terus berubah, spesialis pemasaran di Polaroid meyakinkan perusahaan untuk meluncurkan I-Zone. Kurang dari tiga bulan setelah peluncuran, Kamera Pocket I-Zona Instan menjadi nomor satu Amerika menjual kamera (Klein, 2000).
Ada dua kekuatan besar yang membentuk siapa kita dan apa yang kita beli. Motif pribadi kita, sikap, dan kemampuan pengambilan keputusan menuntun perilaku konsumsi kita. Pada saat yang sama, keluarga kita, latar belakang budaya, iklan yang kita lihat di TV, dan situs yang kita kunjungi di Internet pengaruh pikiran dan tindakan kita.
MEMAHAMI KONSUMEN: FAKTOR-FAKTOR INTERNAL
Perilaku konsumsi kita adalah fungsi dari siapa kita sebagai individu. Pikiran, perasaan, sikap, dan pola perilaku menentukan apa yang kita beli, ketika kita membelinya, dan bagaimana kita menggunakannya. Faktor internal memiliki dampak besar pada perilaku konsumen.
Konsumen motivasi. Tugas pemasar adalah untuk mencari tahu apa kebutuhan dan keinginan konsumen memiliki, dan apa yang memotivasi konsumen untuk membeli. Motivasi adalah drive yang memulai semua perilaku konsumsi kita, dan konsumen memiliki motif ganda, atau tujuan. Beberapa ini adalah terbuka, seperti haus fisiologis yang memotivasi konsumen untuk membeli minuman ringan atau kebutuhan untuk membeli setelan jas baru untuk wawancara. Motif lain yang lebih jelas, seperti kebutuhan siswa untuk tote sebuah bookbag Kate Spade atau memakai Doc Martens untuk memperoleh persetujuan sosial. Kebanyakan kegiatan konsumsi adalah hasil dari beberapa motif yang beroperasi pada waktu yang sama. Para peneliti yang dilatih khusus dalam mengungkap motif sering menggunakan teknik penelitian kualitatif di mana konsumen didorong untuk mengungkapkan pikiran mereka (kognisi) dan perasaan (mempengaruhi) melalui dialog menyelidik. Fokus kelompok dan wawancara mendalam memberikan konsumen kesempatan untuk mendiskusikan produk dan mengungkapkan pendapat tentang kegiatan konsumsi. Moderator terlatih atau pewawancara sering mampu memasuki motif prasadar yang mungkin tidak terdeteksi.
Nilai adalah tujuan hidup masyarakat luas yang melambangkan mode disukai berperilaku (misalnya, independen, penuh kasih, jujur) atau akhir negara yang disukai (misalnya, rasa keberhasilan, cinta dan kasih sayang, pengakuan sosial). Konsumen membeli produk yang akan membantu mereka mencapai nilai yang diinginkan, mereka melihat atribut produk sebagai alat untuk mencapai tujuan. Memahami perspektif berarti-end dapat membantu posisi yang lebih baik pemasar produk dan membuat lebih efektif dan kampanye iklan promosi.
Konsumen memproses informasi ini membantu konsumen Pendekatan pemrosesan informasi dalam memahami perilaku konsumtif dengan berfokus pada urutan aktivitas mental yang digunakan orang dalam menafsirkan dan mengintegrasikan lingkungan mereka..
Perception is the process of sensing, selecting, and interpreting stimuli in one’s environment. Persepsi adalah proses penginderaan, memilih, dan menafsirkan stimuli dalam lingkungan seseorang. Kita mulai untuk melihat stimulus eksternal seperti datang ke dalam kontak dengan salah satu reseptor sensorik kita-mata, telinga, hidung, mulut, atau kulit. Persepsi rangsangan eksternal mempengaruhi perilaku kita bahkan tanpa pengetahuan sadar kita bahwa itu adalah melakukannya. Pemasar dan pengecer memahami hal ini, dan mereka menciptakan produk dan toko khusus dirancang untuk mempengaruhi perilaku kita. Rantai makanan cepat saji cat dinding mereka dalam “panas” warna, seperti merah, untuk mempercepat perputaran pelanggan. Supermarket mengarahkan pelanggan masuk langsung ke bagian produksi, di mana mereka dapat mencium dan menyentuh makanan, merangsang rasa lapar. Seorang pembelanja lapar menghabiskan lebih banyak uang.
Tutup mata Anda dan berpikir sejenak tentang ratusan benda, suara, dan bau sekitar Anda pada saat ini. Dalam rangka untuk berfungsi dalam lingkungan yang ramai, kita memilih untuk merasakan rangsangan tertentu, sementara mengabaikan yang lain. Proses ini disebut selektivitas. Selektivitas memungkinkan kita memusatkan perhatian kita pada hal-hal yang memberikan makna untuk menafsirkan lingkungan kita atau pada hal-hal yang relevan dengan kita, sementara tidak menyia-nyiakan kita yang terbatas sumber daya pemrosesan informasi pada item yang tidak relevan. Apakah Anda bahkan melihat bahwa setelah Anda memutuskan, katakanlah, Florida, untuk tujuan liburan Anda, tampaknya ada kelimpahan iklan untuk Florida resor, promosi penerbangan ke Florida, dan artikel tentang restoran Florida dan atraksi di mana-mana? Kebetulan? Tidak benar-benar. Hanya ada sebanyak sekarang sebagai ada sebelumnya, hanya sekarang Anda selektif menghadiri kepada mereka, sedangkan Anda yang sebelumnya disaring mereka keluar. Pemasar terus menerus berjuang untuk menembus perhatian konsumen kekacauan dan ambil ‘. Iklan dan kemasan dirancang untuk menarik perhatian kita melalui sejumlah teknik, seperti penggunaan kontras dalam warna dan suara, pengulangan, dan penempatan kontekstual.
Apakah Anda menonton TV tadi malam? . Anda mungkin harus membayar perhatian ke banyak iklan yang Anda lihat selama jeda komersial, Anda bahkan mungkin tertawa keras-keras pada beberapa dari mereka. Tapi berapa banyak yang dapat Anda ingat hari ini? Kemampuan konsumen untuk menyimpan, mempertahankan, dan mengambil informasi produk sangat penting untuk keberhasilan sebuah merek. Bila informasi yang diproses, itu diadakan untuk waktu yang sangat singkat (kurang dari satu menit) dalam bekerja, atau jangka pendek, memori. Jika informasi ini dibacakan (mental berulang), maka ditransfer ke memori jangka panjang, jika tidak, informasi yang hilang dan terlupakan. Setelah ditransfer ke memori jangka panjang, informasi dikodekan atau diatur dalam cara yang memberikan arti bagi individu. Informasi dalam memori jangka panjang terus-menerus reorganisasi, diperbarui, dan disusun kembali sebagai informasi baru datang, atau pembelajaran terjadi. Pengolahan informasi teori mewakili penyimpanan informasi dalam memori jangka panjang sebagai jaringan terdiri dari node (kata, ide, atau konsep) dan link (hubungan di antara mereka). Node terhubung satu sama lain tergantung pada apakah ada hubungan antara konsep-konsep, dengan panjang yang mewakili hubungan tingkat asosiasi. Ketika Edwin Land menemukan kamera Polaroid instan pertama, pengetahuan struktur untuk kamera diubah untuk mencerminkan hubungan antara fotografi dan output instan. Sekarang, struktur pengetahuan berubah untuk mencerminkan kamera saya-Zona baru.
Jaringan lengkap dibawa ke pikiran ketika produk diaktifkan disebut skema produk. Mengetahui set asosiasi yang konsumen mengambil dari memori jangka panjang tentang produk tertentu atau kategori sangat penting untuk strategi pemasaran yang sukses. Untuk produk baru atau jasa, pemasar harus memilih set asosiasi mereka ingin konsumen untuk memiliki. Ini disebut posisi produk, atau memilih citra merek. Posisi yang unik Puncak Freans ‘sebagai cookie dewasa dicapai dengan membangun hubungan antara konsep “serius” dan “cookie.” Posisi merek adalah kemudian diterjemahkan ke iklan pintar, diperkuat pada kemasan produk, dan terintegrasi ke dalam semua promosi dan strategi komunikasi. Seiring waktu, citra merek bisa memudar atau menjadi encer. Kadang-kadang konsumen asosiasi konsep yang tidak menguntungkan bagi merek. Ketika ini terjadi, pemasar reposisi merek, menggunakan iklan dan alat pemasaran lainnya untuk membantu konsumen membuat link baru untuk asosiasi positif dan membuang link ke yang tidak menguntungkan. Pada pertengahan 1990-an, sepatu Hush Puppies membuat comeback setelah dekade penjualan rendah. Memperkenalkan menarik, warna-warna cerah, sepatu Hush Puppies reposisi kenyamanan dasar mereka sebagai modis, pemuda-berorientasi, dan “keren.” Strategi untuk ekstensi merek yang sukses juga tergantung pada skema merek. Secara umum, ekstensi merek lebih mungkin berhasil jika set asosiasi untuk perpanjangan pertandingan set asosiasi dari produk inti. Apakah menjual pasta gigi merek penyelamat? . Mungkin tidak, karena asosiasi untuk lifesavers (manis, permen, gula, buah) yang tidak sama dengan mereka untuk pasta gigi (mint, bersih, noncandy). Di sisi lain, anak-anak merek sereal bergula lifesavers dengan warna-warni, buah cincin memiliki pertandingan yang lebih baik dari asosiasi.
Sikap pembentukan dan Perubahan keyakinan konsumen telah disimpan dalam ingatan jangka panjang menyediakan fungsi lain penting untuk pemasar: ini menyediakan dasar bagi sikap konsumen terhadap suatu merek atau iklan. An attitude is an overall evaluation of an object, idea, or action. Sikap adalah evaluasi keseluruhan dari sebuah, ide aksi objek, atau. Sikap dapat positif atau negatif, dan lemah atau sangat dipegang. Pernyataan “Aku cinta Crunch Toffee Vanili Ben & Jerry” adalah sikap, kuat positif bervalensi arah produk. Pernyataan “aku tidak suka Toyota iklan baru” adalah sebuah sikap, yang lemah bervalensi negatif terhadap iklan. Pemasar bekerja keras untuk terus menerus
Sebuah perspektif populer adalah bahwa sikap memiliki tiga komponen: kognitif, afektif, dan asli co. Komponen kognitif mencerminkan pengetahuan dan keyakinan seseorang tentang objek (misalnya, “Klub Digital Jaringan on-line musik situs internet hidup.”), Komponen afektif mencerminkan perasaan (misalnya, “Saya suka situs Klub Jaringan Digital” ) dan komponen asli co mencerminkan kecenderungan perilaku terhadap obyek (misalnya, “Aku akan menjadi pengguna terdaftar dari digitalclubnetwork.com”). Jadi, sikap kecenderungan untuk berperilaku dengan cara tertentu. Jika Anda memiliki sikap yang menguntungkan terhadap politisi, Anda mungkin akan memilih dia dalam pemilu berikutnya. Karena itu, banyak pemasar menggunakan ukuran sikap untuk peramalan penjualan masa depan. Hal ini penting untuk dicatat, bagaimanapun, bahwa hubungan antara sikap dan perilaku yang jauh dari sempurna. Konsumen dapat memiliki sikap positif terhadap beberapa merek tetapi berniat untuk membeli hanya satu. Eksternal ekonomi, sosial, atau faktor pribadi sering mengubah rencana perilaku.
Sikap yang dinamis, yang berarti mereka terus berubah. Sebagai individu dalam belajar informasi baru, seperti perubahan mode, seiring waktu, sikap Anda pernah diadakan dengan keyakinan mungkin tidak lagi ada. Apakah Anda pernah melihat foto-foto lama dari diri Anda dan bertanya-tanya “Apa yang kupikirkan mengenakan pakaian seperti itu Dan melihat gaya rambut saya?!”
MEMAHAMI KONSUMEN: FAKTOR-FAKTOR EKSTERNAL
Selain faktor internal, perilaku konsumen juga dibentuk untuk sebagian besar oleh faktor sosial, seperti budaya, hubungan keluarga, dan aspek lain dari lingkungan eksternal. Kesadaran ini dapat membantu pemasar pengaruh untuk mengidentifikasi kelompok konsumen yang cenderung untuk berpikir, merasa, atau bertindak sama dan memisahkan mereka ke dalam segmen pasar yang unik. Aspek pemasaran program seperti desain produk, iklan, dan harga-bisa kemudian disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan unik, nilai-nilai, dan tujuan kelompok-kelompok yang berbeda.
Pengaruh kelompok pada perilaku konsumen individu Grup pengaruh pada perilaku konsumen dapat berdampak motivasi, nilai, dan pengolahan informasi individu;. Mereka bisa datang dari kelompok-kelompok yang telah menjadi milik konsumen atau dari kelompok-kelompok yang mereka bercita-cita untuk menjadi bagian (kelompok aspirasi). Kelompok dapat memberikan berbagai pengaruh pada individu, termasuk: (1) informasi mempengaruhi mana kelompok bertindak sebagai sumber untuk pendapat ahli; (2) perbandingan pengaruh seperti bahwa kelompok menyediakan kesempatan untuk mengelola individu konsep diri sehubungan dengan identitas kelompok, dan, (3) pengaruh normatif, dimana kelompok menetapkan pedoman dan sanksi untuk perilaku individu cocok atau tidak.
Pengaruh kelompok pada perilaku konsumen cenderung bervariasi dengan berbagai kelompok dan produk-faktor terkait. Sebagai contoh, kelompok yang lebih ini dianggap menjadi sumber, kredibel terhormat persetujuan atau ketidaksetujuan kepada konsumen, semakin besar kemungkinan bahwa konsumen adalah sesuai dengan nilai-nilai kelompok. Selain itu, lebih sering anggota kelompok berinteraksi, dan menggunakan lebih luar terlihat dari produk ini adalah untuk anggota kelompok dan non kelompok, semakin besar pengaruh kelompok pada perilaku konsumsi individu.
Pengaruh keluarga pada perilaku konsumen Keluarga memiliki pengaruh sangat signifikan terhadap perilaku konsumen.. Misalnya, perilaku konsumsi sering berubah secara substansial seperti perubahan status keluarga dari waktu ke waktu. Jadi, orang dewasa muda yang belum menikah, yang sering terfokus pada diri individu-definisi, cenderung untuk membeli produk yang meningkatkan atau mendefinisikan konsep diri mereka. Sebaliknya, pasangan dengan anak-anak mungkin lebih tertarik untuk membeli item atau pengalaman yang dapat dibagi oleh semua anggota keluarga dan, sebagai hasilnya, dapat menghabiskan kurang pada produk berorientasi individual.
Keanggotaan keluarga juga mengarah pada kebutuhan yang lebih besar untuk bersama daripada membuat keputusan perorangan, lebih rumit perilaku konsumen di tingkat rumah tangga. Misalnya, orang yang membeli produk mungkin bukan konsumen akhir produk. Atau mungkin suami dan istri memiliki tingkat keterlibatan yang berbeda dengan keputusan produk tertentu, yang mengarah ke berbagai jenis proses pengambilan keputusan yang terpisah yang harus terintegrasi sebelum pilihan akhirnya dibuat. Memahami dinamika yang terlibat dalam pengambilan keputusan bersama dan yang anggota keluarga pengaruh yang jenis keputusan memiliki implikasi penting bagi pemasar tertarik dalam mengarahkan upaya pemasaran untuk orang yang tepat. Yang penting, dinamika keluarga ini dan transisi gaya hidup yang rumit oleh penurunan rumah tangga tradisional dan kenaikan yang menyertai dalam struktur keluarga non-tradisional, seperti pasangan hidup bersama keluarga atau pasangan mengintegrasikan dari perkawinan sebelumnya.
Pengaruh budaya dan sub-budaya pada perilaku konsumen. Budaya terdiri dari makna dan nilai-nilai sosial yang dibangun diterima oleh mayoritas anggota masyarakat atau kelompok sosial. Ini mencakup hal-hal seperti nilai-nilai bersama, keyakinan, norma, dan sikap, serta reaksi-reaksi afektif, kognitif keyakinan, dan pola perilaku. Biasanya, ketika kita berpikir tentang budaya, kita cenderung berpikir tentang perbedaan antara individu dari berbagai negara atau wilayah di dunia. Dengan meningkatnya globalisasi ekonomi dunia, memahami perbedaan dan persamaan dalam perilaku konsumen di seluruh budaya menjadi semakin bermakna, dengan implikasi penting tentang sejauh mana strategi pemasaran dapat menjadi standar di seluruh negara dan budaya, atau lokal untuk mencerminkan negara atau wilayah khusus budaya perbedaan.
Salah satu perbedaan budaya penting adalah sejauh mana diri didefinisikan sebagai independen dari orang lain dibandingkan saling bergantung dengan orang lain penting. Kebudayaan Individualistis, seperti Amerika Serikat, cenderung menumbuhkan rasa independen dari diri, dengan diri yang diyakini satu set . atribut internal yang unik untuk setiap orang budaya kolektivis, bagaimanapun, seperti Cina, memupuk rasa saling bergantung diri, dengan diri sendiri diyakini tak terpisahkan dari orang lain dan konteks sosial; orang-spesifik atribut kurang penting dalam definisi diri daripada yang hubungan interpersonal. Perbedaan-perbedaan dalam definisi diri mempengaruhi berbagai perilaku konsumen, termasuk reaksi emosional untuk iklan, sejauh mana informasi dari orang lain adalah dihargai ketika membuat keputusan konsumsi, dan pemberian hadiah perilaku.
Selain perbedaan budaya yang ada di negara, pemasar juga semakin menyadari pentingnya perbedaan budaya dalam masyarakat Subkultur adalah. Kelompok-kelompok yang berbeda di dalam sebuah masyarakat yang berbagi makna umum. Subkultur sering dapat diidentifikasi berdasarkan karakteristik demografi, seperti lokasi geografis (misalnya, bagian selatan Amerika Serikat), etnis (misalnya, Hispanik Amerika), atau usia (misalnya, bayi-boomer).
Sebagai contoh, sebuah subkultur yang kuat ada di sekitar sepeda motor Harley-Davidson dan Grup Pemilik Harley (HOG). Anggota ini berbagi kelompok nilai budaya inti dari kebebasan pribadi, yang dicontohkan di kedua pengalaman menggunakan produk (mengambil ke jalan terbuka) dan dalam strategi pemasaran perusahaan (misalnya, terbuka bersayap lambang [Schouten dan Alexander, 1995]). Yang penting, identifikasi gaya hidup subkultur, dan pengembangan sesuai inventarisasi makna bersama, biasanya lebih sulit daripada pengembangan pemahaman seperti subkultur berdasarkan karakteristik demografi diamati.
Semakin, internet marketer telah menyadari nilai dari segmen subkultur dan telah disesuaikan penawaran produk dan / atau konten situs Web untuk menarik subkultur tertentu, paling sering berbasis demografis, dan untuk memupuk rasa lebih besar dari masyarakat dan hubungan antar anggota subkultur. Sebagai contoh, iVillage.com fitur konten yang menarik khusus untuk perempuan dan menawarkan forum untuk diskusi tentang isu-isu yang relevan untuk para penggunanya.
KEPUTUSAN KONSUMEN PROSES PEMBUATAN
Konsumen apa berpikir dan lingkungan sosial mereka tinggal dalam menentukan apa yang mereka beli dan bagaimana keputusan pembelian dibuat. Biasanya, proses pengambilan digambarkan sebagai serangkaian lima tahap. Tahap pertama, pengakuan kebutuhan, terjadi ketika konsumen melihat perbedaan antara negara-negara mereka yang ideal dan aktual.. Butuh pengakuan sering diminta oleh iklan persuasif. Konsumen kemudian memulai proses pencarian informasi dengan melakukan pencarian internal dari struktur pengetahuan mereka sendiri, diikuti oleh pencarian eksternal untuk informasi dari teman, anggota keluarga, wiraniaga, dan iklan. Langkah ini dapat memperjelas masalah, memberikan kriteria yang digunakan untuk menilai alternatif produk dan menghasilkan sebuah subset, atau “set pertimbangan,” pilihan potensial. Pilihan ini kemudian dinilai lebih lengkap di tahap ketiga, evaluasi alternatif. Pada tahap ini, produk di set pertimbangan dibandingkan dengan satu sama lain. Kadang-kadang aturan heuristik yang sederhana, seperti “Saya akan membeli produk termurah” digunakan. Di lain waktu strategi yang lebih kompleks, seperti model rata-rata tertimbang yang mengkompensasi kekuatan dan kelemahan produk, digunakan. Setelah memeriksa setiap alternatif, konsumen siap untuk membeli, langkah keempat dalam proses pengambilan keputusan. Akhirnya, setelah membeli, konsumen memasuki fase pasca-pembelian proses, di mana kinerja alternatif yang dipilih dievaluasi dalam terang harapan sebelumnya. Konsumen akan puas dengan produk jika memenuhi atau melebihi harapan; ketidakpuasan terjadi jika produk tidak memenuhi harapan.
Model perilaku konsumen, sementara sangat berguna, sangat sederhana dan tidak selalu akurat mencerminkan proses keputusan konsumen tindak. Konsumen mungkin tidak selalu linear dilanjutkan melalui lima langkah seperti yang dijelaskan, dan kadang-kadang mereka dapat melewati langkah-langkah tertentu seluruhnya. Namun, model adalah perkiraan dekat dari proses untuk kebanyakan konsumen untuk kesempatan membeli sebagian.
Kita semua adalah konsumen. Memahami mengapa kita berperilaku seperti yang kita lakukan adalah bagian integral transfer efisien barang dan jasa dalam ekonomi pasar-didorong.

Pengaruh kebudayaan dan Pengaruh konsumsi

Faktor budaya merupakan suatu yang paling memiliki pengaruh paling luas pada perilaku konsumen. Pengiklan harus mengetahui peranan yang dimainkan oleh budaya, subbudaya dan kelas social pembeli. Budaya adalah penyebab paling mendasar dari keinginan dan perilaku seseorang.
Budaya merupakan kumpulan nilai-nilai dasar, persepsi, keinginan dan perilaku yang dipelajari oleh seorang anggota masyarakat dari keluarga dan lembaga penting lainnya.

Setiap kebudayaan terdiri dari sub-budaya – sub-budaya yang lebih kecil yang memberikan identifikasi dan sosialisasi yang lebih spesifik untuk para anggotanya. Sub-budaya dapat dibedakan menjadi empat jenis: kelompok nasionalisme, kelompok keagamaan, kelompok ras, area geografis. Banyak subbudaya membentuk segmen pasar penting dan pemasar seringkali merancang produk dan program pemasaran yang disesuaikan dengan kebutuhan konsumen.

Kelas-kelas sosial adalah masyarakat yang relatif permanen dan bertahan lama dalam suatu masyarakat, yang tersusun secara hierarki dan keanggotaannya mempunyai nilai, minat dan perilaku yang serupa. Kelas sosial bukan ditentukan oleh satu faktor tunggal, seperti pendapatan, tetapi diukur dari kombinasi pendapatan, pekerjaan, pendidikan, kekayaan dan variable lain.

Pengaruh Budaya Yang Tidak Disadari

Dengan adanya kebudayaan, perilaku konsumen mengalami perubahan . Dengan memahami beberapa bentuk budaya dari masyarakat, dapat membantu pemasar dalam memprediksi penerimaan konsumen terhadap suatu produk. Pengaruh budaya dapat mempengaruhi masyarakat secara tidak sadar. Pengaruh budaya sangat alami dan otomatis sehingga pengaruhnya terhadap perilaku sering diterima begitu saja. Ketika kita ditanya kenapa kita melakukan sesuatu, kita akan otomatis menjawab, “ya karena memang sudah seharusnya seperti itu”. Jawaban itu sudah berupa jawaban otomatis yang memperlihatkan pengaruh budaya dalam perilaku kita. Barulah ketika seseorang berhadapan dengan masyarakat yang memiliki budaya, nilai dan kepercayaan yang berbeda dengan mereka, lalu baru menyadari bahwa budaya telah membentuk perilaku seseorang. Kemudian akan muncul apresiasi terhadap budaya yang dimiliki bila seseorang dihadapan dengan budaya yang berbeda.

Misalnya, di budaya yang membiasakan masyarakatnya menggosok gigi dua kali sehari dengan pasta gigi akan merasa bahwa hal itu merupakan kebiasaan yang baik bila dibandingkan dengan budaya yang tidak mengajarkan masyarakatnya menggosok gigi dua kali sehari. Jadi, konsumen melihat diri mereka sendiri dan bereaksi terhadap lingkungan mereka berdasarkan latar belakang kebudayaan yang mereka miliki. Dan, setiap individu akan mempersepsi dunia dengan kacamata budaya mereka sendiri.

Pengaruh Budaya dapat Memuaskan Kebutuhan

Budaya yang ada di masyarakat dapat memuaskan kebutuhan masyarakat. Budaya dalam suatu produk yang memberikan petunjuk, dan pedoman dalam menyelesaikan masalah dengan menyediakan metode “Coba dan buktikan” dalam memuaskan kebutuhan fisiologis, personal dan sosial. Misalnya dengan adanya budaya yang memberikan peraturan dan standar mengenai kapan waktu kita makan, dan apa yang harus dimakan tiap waktu seseorang pada waktu makan. Begitu juga hal yang sama yang akan dilakukan konsumen misalnya sewaktu mengkonsumsi makanan olahan dan suatu obat.

Pengaruh Budaya dapat Dipelajari

Budaya dapat dipelajari sejak seseorang sewaktu masih kecil, yang memungkinkan seseorang mulai mendapat nilai-nilai kepercayaan dan kebiasaan dari lingkungan yang kemudian membentuk budaya seseorang. Berbagai macam cara budaya dapat dipelajari. Seperti yang diketahui secara umum yaitu misalnya ketika orang dewasa dan rekannya yang lebih tua mengajari anggota keluarganya yang lebih muda mengenai cara berperilaku.

Ada juga misalnya seorang anak belajar dengan meniru perilaku keluarganya, teman atau pahlawan di televisi. Begitu juga dalam dunia industri, perusahaan periklanan cenderung memilih cara pembelajaran secara informal dengan memberikan model untuk ditiru masyarakat. Misalnya dengan adanya pengulangan iklan akan dapat membuat nilai suatu produk dan pembentukan kepercayaan dalam diri masyarakat. Seperti biasanya iklan sebuah produk akan berupaya mengulang kembali akan iklan suatu produk yang dapat menjadi keuntungan dan kelebihan dari produk itu sendiri.

Iklan itu tidak hanya mampu mempengaruhi persepsi sesaat konsumen mengenai keuntungan dari suatu produk, namun dapat juga memepengaruhi persepsi generasi mendatang mengenai keuntungan yang akan didapat dari suatu kategori produk tertentu.

Pengaruh Budaya yang Berupa Tradisi

Tradisi adalah aktivitas yang bersifat simbolis yang merupakan serangkaian langkah-langkah (berbagai perilaku) yang muncul dalam rangkaian yang pasti dan terjadi berulang-ulang. Tradisi yang disampaikan selama kehidupan manusia, dari lahir hingga mati.

Hal ini bisa jadi sangat bersifat umum. Hal yang penting dari tradisi ini untuk para pemasar adalah fakta bahwa tradisi cenderung masih berpengaruh terhadap masyarakat yang menganutnya. Misalnya yaitu natal, yang selalu berhubungan dengan pohon cemara. Dan untuk tradisi-tradisi misalnya pernikahan, akan membutuhkan perhiasan-perhiasan sebagai perlengkapan acara tersebut.

Perubahan Nilai Budaya

Budaya juga perlu mengalami perubahan nilai. Ada beberapa aspek dari perlunya perluasan perubahan budaya yaitu :

Budaya merupakan konsep yang meliputi banyak hal atau luas. Hal tersebut termasuk segala sesuatu dari pengaruh proses pemikiran individu dan perilakunya. Ketika budaya tidak menentukan sifat dasar dari frekuensi pada dorongan biologis seperti lapar, hal tersebut berpengaruh jika waktu dan cara dari dorongan ini akan memberi kepuasan.
Budaya adalah hal yang diperoleh. Namun tidak memaksudkan mewarisi respon dan kecenderungan. Bagaimanapun juga, bermula dari perilaku manusia tersebut.
Kerumitan dari masyarakat modern yang merupakan kebenaran budaya yang jarang memberikan ketentuan yang terperinci atas perilaku yang tepat.

Variasi nilai perubahan dalam nilai budaya terhadap pembelian dan konsumsi

Nilai budaya memberikan dampak yang lebih pada perilaku konsumen dimana dalam hal ini dimasukkan kedalam kategori-kategori umum yaitu berupa orientasi nilai-nilai lainnya yaitu merefleksi gambaran masyarakat dari hubungan yang tepat antara individu dan kelompok dalam masyarakat. Hubungan ini mempunyai pengaruh yang utama dalam praktek pemasaran.

Sebagai contoh, jika masyarakat menilai aktifitas kolektif, konsumen akan melihat kearah lain pada pedoman dalam keputusan pembelanjaan dan tidak akan merespon keuntungan pada seruan promosi untuk “menjadi seorang individual”. Dan begitu juga pada budaya yang individualistik. Sifat dasar dari nilai yang terkait ini termasuk individual/kolektif, kaum muda/tua, meluas/batas keluarga, maskulin/feminim, persaingan/kerjasama, dan perbedaan/keseragaman.